Tarekat, Teknik Berdzikir Efektif

Di samping menunjuk kepada pengertian-pengertian yang telah disebutkan sebelumnya, thariqah juga dapat didefinisikan secara singkat sebagai “teknik berdzikir efektif”.
Sebelumnya telah disebutkan bahwa istilah thariqah dalam al-Quran dan al-Hadis digunakan dalam konteks dzikrullah dalam kerangka tauhid. Dalam hadis al-Bukhari berikut kata thuruq (bentuk jamak dari thariq dan thariqah) juga digunakan dalam konteks ini:

“Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat-malaikat yang bertugas berkeliling di tarekat-tarekat mencari ahli dzikir. Jika mereka menemukan suatu kaum yang sedang berdzikir kepada Allah, mereka berseru, ‘Sebutkan kebutuhan kalian’.”
Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya, “Malaikat-malaikat itu kemudian mengelilingi mereka dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit dunia” [shahih al-Bukhari, V: 2353, Shahih Ibn Hibban, III: 139, Musnad Ahmad, II:251].

Kata thuruq ‘tarekat-tarekat atau jalan-jalan’ dalam hadis tersebut menunjukan kepada halaqah atau majelis dzikir. Halaqah artinya lingkaran, dan halaqah dzikir menunjukan kepada makna “sekumpulan orang yang duduk melingkar untuk bersama-sama berdzikir dan bermunajat kepada Allah ‘azza wa jalla”. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ahmad halaqah dzikr ini disebut oleh Nabi SAW sebagai riyadh al-jannah ‘taman-taman sorga’:

“Jika kamu melewati taman-taman sorga, maka masuklah ke sana”. Para sahabat bertanya, “Apa taman sorga itu?” Nabi menjawab, “Halaqah-halaqah dzikir” [sunan al-Tirmidzi, V:532, Musnad Ahmad, III:150].

Hadis tersebut memerintahkan orang-orang mukmin agar bergabung dengan halaqah dzikir sebagai sebuah majelis yang sangat dicintai Allah. Imam al-Darami meriwayatkan bahwa Luqman al-Hakim pernah memberikan nasehat kepada putranya sebagai berikut:

“Jika kamu melihat suatu kaum yang sedang berdzikir kepada Allah, maka duduklah bersama mereka; sebab, jika kamu orang yang berilmu, maka ilmumu akan bermanfaat, dan jika kamu orang yang tidak berilmu, maka mereka akan mencurahkan rahmat itu kepadamu bersama dengan mereka. Dan jika kamu melihat suatu kaum yang tidak berdzikir kepada Allah, maka janganlah kamu duduk bersama mereka; sebab, jika kamu orang yang berilmu, maka ilmumu tidak akan bermanfaat bagimu, dan jika kamu orang yang tidak berilmu, maka mereka membuatmu semakin bodoh atau sesat; semoga Allah memandang mereka dengan kemurkaan-Nya, lalu menimpakan kemurkaan itu kepadamu bersama dengan mereka” [Sunan al-Darami, I:117-118].

Di dalam al-Quran banyak sekali ayat-ayat yang menyinggung perintah berdzikir dan keutamaannya. Selama ini tidak sedikit ulama yang berpendapat bahwa berdzikir itu hukumnya sunnah, bukan wajib. Pendapat semacam ini sebenarnya tidak dapat dibenarkan karena diantara dalil-dalil yang berkenaan dengan dzikir justru menunjukan kepada hukum wajib.
Dzikir merupakan aktivitas ibadah yang paling tinggi nilainya. Dalam sebuah firman Allah, di samping digunakan lafaz yang memang mengandung makna keagungan dzikir, Allah bahkan masih menggunakan lam al-tawkid (lam yang dibaca fathah dan menunjuk pada makna “sungguh atau sangat”) untuk menegaskan betapa besar keutamaan, nilai, pahala, atau manfaat dzikir, sebagaimana yang sering dibaca khatib Salat Jumat di akhir khutbahnya, “Wa ladzikrullahi akbar ‘sungguh dzikrullah itu akbar’.” (Q.S. 29:45).
Ke-akbar-an kedudukan dzikrullah sebagai amal terbaik juga dipertegas oleh hadis Nabi SAW dalam riwayat Ahmad dengan sanad hasan:

“Maukah kalian kuberitahu amal yang paling baik untuk kalian, amal yang paling suci di sisi Tuhan kalian, amal yang paling mengangkat derajat kalian, amal yang lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, dan amal yang lebih baik bagi kalian daripada menghadapi musuh di medan jihad yang kemudian kalian dan musuh kalian saling menebas leher?”
Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Nabi bersabda.” Dzikrullah”[Musnad Ahmad,V:239].

Selain sebagai amalan yang paling agung, dzikrullah bahkan merupakan inti/ruh semua aktivitas. Setiap aktivitas yang di dalamnya tidak ada dzikrullah adalah sia-sia dan tidak mempunyai nilai apa-pun di mata Allah. Dalam sebuah hadis yang diriwayat oleh Imam al-Nasai, Nabi SAW menyebut aktivitas semacam ini sebagai permainan belaka:

“Segala sesuatu yang tidak bertolak dari dzikrullah adalah permainan” [Al-Sunan al-Kubra, V: 302].

Satu faktor yang menyebabkan dzikrullah menduduki posisi tertinggi dalam keseluruhan aktivitas seorang mukmin terkait erat dengan keberadaanya sebagai pengusir Iblis/Setan dari dalam diri manusia. Tidak dipungkiri bahwa makhluk terkutuk ini selalu menempel di dalam diri manusia sejak manusia itu lahir ke dunia. Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda:

“Tidaklah seorang anak-pun dilahirkan kecuali dia pasti disentuh oleh setan [Shahih al-Bukhari, IV:1655].

Dalam bahasa Ibn Abbas yang dikutip oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak dan Imam al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman hadis tersebut diungkapkan dengan kata-kata:

“Tidaklah seorang manusia yang terlahir ke dunia kecuali al-waswas bertengger di hatinya; jika ia melakukan dzikrullah, setan itu menahan diri; tetapi jika ia lalai, setan itu bergerilya membisikan godaan-godaan” [Al-Mustadrak ‘ala al-Shahihayn, II: 590; Syu’ab al-Iman, I: 450].

Ibn Abbas menjelaskan, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibn Abi Syaibah dalam Mushannaf –nya dan dikutip juga oleh Imam Ibn Katsir dan Imam al-Thabari dalam kitab tafsir mereka, bahwa yang dimaksud al-waswas adalah Setan, kemudian ia berkata:

“Setan itu mendekam di kalbu anak Adam; jika ia lupa dan lalai, setan itu membisikkan godaan-godaan, dan jika ia berdzikir kepada Allah, setan itu menahan diri” [Mushannaf Ibn [Syaibah, VII: 135; Tafsir Ibn Katsir, IV:576; Tafsir al-Thabari, XXX:355].

Jadi, tidak diragukan lagi bahwa musuh bebuyutan manusia, sang Iblis, tidak pernah berhenti dari menggoda manusia bahkan sejak manusia pertama Adam diciptakan; dan makhluk-makhluk durhaka ini tidak mungkin dapat dihalau kecuali dengan senjata yang disebut dzikrullah. Hal ini ditegaskan langsung oleh Nabi SAW melalui sabda beliau dalam riwayat Imam Ibn Hibban, Tirmidzi, dan Abu Ya ‘la:

“Seseorang tidak akan bisa melindungi ‘diri’-nya dari setan kecuali hanya dengan dzikrullah” [Shahih Ibni Hibban, XIV:125; Sunan Al-Tirmidzi, V: 148; Musnad Abi Ya’la, III: 141].

Persoalannya, setiap orang sudah berdzikir, sudah biasa menyebut asma Allah dan mengingatNya, tetapi dalam kenyataan mereka tetap terperangkap dalam jebakan-jebakan sang Iblis baik yang tampak maupun yang tersembunyi, seperti dengkil, dendam, ‘ujub, marah, dan penyakit-penyakit hati lainnya yang secara simultan menimbulkan perbuatan-perbuatan keji dan mungkar (al-fakhsya’ wa al-munkar) dalam berbagai bentuknya, dan yang paling layak dipertanyakan adalah bahwa semua itu tidak jarang justru dilakukan oleh orang-orang yang secara lahiriah sudah terbiasa berdzikir. Berbagai kasus yang terjadi di lembaga-lembaga Islam, mulai dari sekolah-sekolah yang berlabel Islam hingga instansi-instansi yang menangani urusan-urusan keagamaan merupakan bukti kegagalan dzikir mereka.
Rahasia kegagalan dzikir mereka sebenarnya hanya terletak dalam satu hal: mereka tidak melibatkan thariqah sebagai “teknik berdzikir efektif”. Logika awam membuktikan bahwa pekerjaan apa pun yang dilakukan dengan tidak melibatkan thariqah ‘teknik/metode/cara’ yang tepat maka sudah dapat dipastikan hasilnya tidak maksimal atau bahkan gagal sama sekali.
Air dan pengolahannya adalah contoh sederhana yang dapat dikemukan di sini.
Dalam kondisi biasa (tanpa teknologi) air hanya berfungsi sebagai pelapas dahaga, mencuci, dan/atau mandi. Dalam kasus ini manfaat air tidak maksimal. Sebaliknya tatkala terhadap air itu diterapkan teknologi tinggi (‘ilm al-thariqah) oleh seorang pakar teknologi yang berkompeten di bidangnya, maka dari pengolahan air itu dapat diciptakan energi raksasa yang sanggup membangkitkan tenaga listrik, menjalankan kereta api, dan bahkan juga dapat berfungsi sebagai peledak yang berkekuatan tinggi.
Kalau air saja dapat diolah menjadi sumber energi raksasa dengan melibatkan teknologi, lalu bagaimana dengan kalimah Allah yang oleh al-Quran disebut sebagai ‘ulya ‘tertinggi’ ( kalimatullahi hiyal ‘ulya)? Bagaimana dengan dzikrullah yang oleh al-Quran digambar kata dengan kata akbar ‘maha hebat’ (wa ladzikrullahi akbar)?!

Disinilah letak urgensi thariqah sebagai “teknik berdzikir efektif”, yaitu agar dzikir yang dilakukan oleh seorang hamba dapat berfungsi maksimal dan mencapai efektivitasnya untuk menghalau sang iblis, terutama, yang tanpa disadarinya telah lama berada di dalam dirinya/hatinya, menjadi biang kerok setiap keangkaramurkaan.
Sebagai “teknik berdzikir efektif” thariqah melibatkan beberapa unsur yang harus difungsikan secara simultan, karena yang satu dengan yang lain memiliki keterkaitan yang sangat erat. Salah satu unsur dari unsur-unsur tersebut adalah dzikir itu sendiri. Yang menjadi fondasi dan ruh semua aktivitas ibadah. Terkait dengan masalah ini, thariqah bahkan dapat dipahami juga sebagai istilah untuk paket-paket dzikir dan tugas-tugas spiritual berdasarkan model kurikulum pembelajaran yang dijadikan sebagai media untuk mencapai kesucian jiwa dan kedamaian hati.
»»  Selengkapnya...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tarekat, Jalan Menuju Ma’rifah

Pengamalan thariqah akan membuahkan apa yang disebut dengan haqiqah, dan jalan tritunggal syari’ah, thariqah, dan haqiqah, pada gilirannya akan membuahkan al-ma’rifah billah (mengenal Allah) yang oleh Nabi SAW disebut sebagai “pangkal ilmu” (ra’s al-‘ilm) [Musnad al-Rabi hlm. 311], bahkan juga “pangkal harta atau modal “ (ra’s al-mal) [Kasyf al-khafa’, II:6], semuanya tertuang secara ringkas dalam sabda Nabi SAW:

“Syari’ah adalah perkataanku, thariqah adalah perbuatanku, haqiqah adalah keadaan (batin)-ku, dan ma’rifah adalah pangkal harta (modal)-ku. [Kasyf al-Khafa,’II:6]”.

Mengenal Allah (al-ma’rifah billah) merupakan tujuan utama penciptaan makhluk. Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan:

“Dulu Aku adalah mutiara yang tersembunyi, lalu Aku ingin dikenal; maka Kuciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku” [Abjad al-Ulum, II:159].

Menurut al-Qari isi hadis tersebut sesuai dengan firman Tuhan, “Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mengabdi kepada-Ku” (wa ma khalaqtul jinna wal insa illa li ya’buduni); karena ungkapan li ya’buduni ‘.

“Agar mereka mengabdi kepada-Ku” oleh Ibn Abbas ditafsirkan dengan li ya’rafuni ‘ yaitu agar mereka mengenal-Ku’ [Kasyf al-Khafa, II:173].

Penafsiran li ya’buduni dengan li ya’rafuni dikemukakan juga oleh para mufassir lainnya seperti Mujahid yang dikutip oleh al Tsa’alibi dalam Jawahir al-Hisan fi Tafsir al-Quran, al-Baghawi dalam Ma’alim al Tanzil, dan al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Quran, Abu al-Saud dalam Tafsir-nya, Ibn Juraij yang dikutip oleh Ibn Katsir dal Tafsir-nya, dan juga Imam al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani.
Mengenal Allah merupakan keharusan bagi seorang hamba yang ingin kembali kepada-Nya. Mengenal Allah juga berarti mengenal jalan kembali kepada-Nya. Jalan kembali ini pulalah yang sebenarnya juga disebut dengan thariqah, yaitu jalan yang memang disiapkan secara khusus untuk ditempuh oleh hati (qalb), jiwa (nafs) atau ruh (ruh), tiga istilah yang menunjuk kepada satu makna yang dalam bahasa Imam al-Ghazali disebut dengan lathifah rabbaniyyah ‘ yaitu zat maha halus yang dinisbatkan kepada Tuhan’ [Ihya Ulum al-Din].
Zat maha halus tersebut adalah fakultas yang asal penciptaannya berasal dari Tuhan sebagaimana tersirat dari firman Tuhan nafakhtu fihi min ruhi ‘setelah Kutiupkan kepadanya sebagian ruh-Ku’ [Al-Hijr, 15:29; Shad, 38:72]. Fakultas inilah yang mampu mencapai prestasi al-ma’rifah billah ‘mengenal Allah’ dan ia pulalah yang kelak kembali ke “asal”-nya, Allah ‘azza wa jalla.
Persoalan mengenal Allah dan jalan kembali kepada-Nya ini sudah harus diselesaikan di dunia ini. Jika di dunia seseorang tidak mengenal Allah dan jalan kembali kepada-Nya, maka ia tidak akan pernah, setidak-tidaknya sangat sulit untuk kembali kepada Tuhannya; artinya, ia tidak akan masuk ke dalam golongan yang dipanggil oleh Allah dengan firman-Nya:

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai, serta masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam sorga-Ku”. (Al-Fajr,89:27-30).

Dalam kaitan ini pulalah Allah menegaskan:

“Barangsiapa di dunia buta (mata batinnya), maka dia di akhirat akan lebih buta lagi dan tersesat jalannya.” (Al-Isra, 17:72)

»»  Selengkapnya...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tarekat, Cara Mengamalkan Syari’ah

Dengan mengacu pada uraian sebelumnya dapat dipahami bahwa thariqah atau thariq al-shafiyyah ‘jalan para sufi’ pada hakikatnya adalah “jalan yang ditempuh oleh para nabi dan rasul dalam merealisasikan penghambaan diri dan tauhid yang murni dengan cara mengosongkan kalbu dari hal-hal selain Allah serta memenuhinya dengan dzikrullah dalam setiap keadaan (berdiri, duduk, dan berbaring),” dengan kata lain, thariqah pada dasarnya adalah “pengamalan syari’ah dalam kerangka tauhid dan ubudiyah.”

Penjelasan yang lebih gamblang mengenai posisi thariqah sebagai pengamalan syari’ah dalam kerangka tauhid dan ubudiyah dapat disimak pula dari pernyataan Al-Mukarram Saidi Syekh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya berikut:

“Tarikat adalah cara mengamalkan syariat dan menghayati inti daripada hakikat syariat itu sendiri serta menjauhkan diri dari hal-hal yang melalaikan pelaksanaannya serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang oleh syariat itu sendiri.”
“Tarikat itu adalah pengamalan syariat itu sendiri. Kita harus masuk agama Islam secara keseluruahan, melaksanakan syariat dan hakikat zahir dan batin.”
“Tarikat itu harus berada dalam Islam, sesaui dengan Al Qur’an dan Al Hadis. Segala tarikat yang tidak sesuai dengan Islam adalah salah. Orang tarikat harus bersyariat, oleh sebab itu zaman dahulu selesai syariat dulu baru masuk tarikat. Dengan kata lain, Tarikat yang suci harus berdiri di atas syariat yang murni.”
“Sasaran orang yang bertarikat adalah mencari ridha Allah semata dan memurnikan tauhid kepada-Nya. Tauhid dijadikan pola pikir, dalam bersikap “Ilahi anta maqshuudii waridhaaka mathluubii” dalam bertindak sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadis.
Ketika beliau ditanya, “Apakah tarikat itu perlu?” beliau menjawab, “Perlu atau tidaknnya tarikat jangan dipersoalkan. Yang perlu adalah bagaimana janji Al Qur’an bisa kita realisasikan. Janji Al Qur’an ternyata selalu dapat direalisasikan oleh Syekh-Syekh tarikat.

Di dalam janji al-Quran yang seringkali terdengar kumandangnya di mimbar-mimbar-mimbar adalah bahwa umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (khair ummat ukhrijat li al-nas) [Ali Imran, 3:110], dan sekaligus umat pilihan yang adil untuk menjadi saksi atas manusia (ummat wasathan litakuna syuhada li al-nas) [Al-Baqarah, 2:143]. Agama mereka pun merupakan agama yang tidak tertanding dalam semua aspek sebagaimana ditegaskan oleh Nabi saw.: Al-Islam ya’lu wa la yu’la ‘alaih (Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih darinya)” [Shahih al-Bukhari 1:454]. Hal ini sekaligus mengandung arti bahwa umat Islam juga tidak tertandingi. Kenyataanya, hingga saat ini umat Islam masih terpuruk dan lebih banyak menjadi penonton daripada pemain di panggung peradaban.
 
Pernyataan al-Quran, “Betapa sering kelompok yang sedikit mampu …banyak “ [Al- Baqarah, 2:249], Justru sekarang lebih banyak berlaku untuk umat yang lain daripada umat Islam sendiri yang notabene merupakan mayoritas. Hal ini tiada lain karena umat Islam hanya terpaku pada formalitas agama (fikih atau syari’ah dalam arti sempit) yang saat ini justru selalu menjadi sumber khilafiah berkepanjangan. Pada umumnya mereka mengamalkan sya’riah tanpa melibatkan thariqah, padahal di dalam thariqah-sebagaimana ditegaskan dan dibuktikan oleh Al-Mukarram Said Syekh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya-tersembunyi apa yang oleh beliau disebut “teknologi al-Quran,” suatu teknologi yang mampu melahirkan energi ketuhanan yang maha dahsyat sebagai sumber senjata untuk mengusir iblis la’natullah, musuh paling nyata setiap mukmin, sehingga pada gilirannya mereka mampu menegakkan shalat al khasyi’in yang juga menjadi kunci mutlak kemenangan itu sendiri.
»»  Selengkapnya...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tarekat dalam Pandangan Ibn Taimiyah

Penjelasan Ibn Taimiyah mengenai tarekat sangat penting untuk dikemukakkan lebih jauh disini, sebab sekali lagi selama ini ia sering dituding sebagai anti tarekat dan bahkan dijadikan rujukan utama oleh sebagian kecil umat untuk menentang tarekat, padahal Ibn Taimiyah tidak pernah menentang tarekat/tasawuf kecuali yang nyata sekali bertentangan dengan Al-Quran dan al-Sunnah.
Ketika memuji Imam al-Junaid al-Baghdadi berkenaan dengan kewajiban seorang salik orang yang berjalan menuju Tuhan agar mengenal Sang Pencipta (ma’rifat al-shani) sehingga dapat beramal dan berubudiyah secara ikhlas, Ibn Taimiyah menegaskan dalam kitabnya al-Istiqamah:

“Ini (mengenal sang Pencipta) termasuk di antara pokok-pokok akidah ahlu-sunnah dan imam-imam para Syeikh, khususnya syekh-syekh sufi, karena pokok pangkal tarekat para sufi adalah kehendak (al-iradah), yang merupakan fondasi amal. Mereka dalam hal kehendak, ibadah, amal dan akhlak lebih besar ketehuhannya daripada dalam hal perkataan dan ilmu pengetahuannya. Mereka dengan semua itu lebih besar perhatiannya dan lebih banyak pemeliharaanya. Orang yang belum memasuki semua itu tidak dapat serta merta menjadi ahli tarekat mereka."

Dalam kitabnya yang lain al-Hasanah wa al-Sayyiah, Ibn Taimiyah menegaskan lebih lanjut bahwa orang yang mengikuti Imam al-Junaid adalah orang yang memperoleh hidayah, selamat dan bahagia:

“Barang siapa menempuh jalan yang ditempuh oleh al-Junaid yang merupakan salah seorang pakar tasawuf dan ma’rifah, maka ia benar-benar telah mendapat hidayah, selamat dan bahagia."

Selain Imam al-Junaid al-Baghdadi, Ibn Taimiyah juga memuji dan membela syekh syekh tarekat lainnya, seperti: Abu Yazid al-Busthami, Syekh Abd al-Qadir al-Jailani, dan bahkan juga Imam al-Ghazali. Tentang Syekh Abd al-Qadir al-Jailani, misalnya, Ibn Taimiyah menggambarkannnya sebagai berikut:

“Syekh Abd al-Qadir al-Jailani, misalnya, Ibn Taimiyah menggambarkannya sebagai berikut: “Shekh Abd al-Qadir al-Jailani dan Syekh tarekat seperti beliau merupakan syekh yang paling gigih memerintahkan menetapi syara, perintah dan larangan, serta mengedepankan agar meninggalkan keinginan dan kehendak nafsu, karena kesalahan dalam berkehendak dilihat dari segi kehendak itu sendiri hanya terjadi dari sisi hawa nafsu ini. Beliau memerintahkan seorang salik ‘murid yang menempuh suluk (perjalanan) menuju Tuhan’ agar tidak memiliki sama sekali kehendak yang bersumber dari hawa nafsu melainkan ia berkehendak sesuai dengan yang dikehendaki Allah ‘azza wa jalla."

Pada bagian sebelumnya sudah disinggung bahwa Ibn Taimiyah menyebut para sufi sebagai ahl ulum al-qulub ‘pakar-pakar ilmu hati yang bebas dari bid’ah ketika ia mengatakan:

“Perkataan pakar-pakar ilmu hati dari kalangan sufi dan yang selain mereka, seperti Abu Hamid al-Ghazali pula Ibn Taimiyah mengutip pernyataan yang mengukuhkan kebenaran tarikat para sufi:
“Tarekat para sufi adalah tujuan (ghayah), karena mereka menyucikan kalbu mereka dari hal-hal selain Allah dan memenuhinya dengan dzikrullah; dan ini merupakan prinsip dakwah para rasul. Pengakuan Ibn Taimiyah mengenai kebenaran tarekat para sufi juga mencuat dari pernyataanya yang dituangkan dalam kitabnya yang berjudul Syarh al-Aqidah al-Ishfahaniyah, yaitu ketika ia berbicara tentang mu’jizat para nabi: “ Tidak ada jalan bagi akal untuk memahami mukjizat para nabi hanya dengan komoditi akal semata. Hal-hal lain dari keistimewaan para nabi hanya dapat dipahami dengan rasa oleh orang yang menempuh tarekat tasawuf…"

Jika Nabi memiliki suatu keistimewaan yang Anda tidak punya modelnya, maka Anda sama sekali tidak akan memahami keistimewaan itu, apalagi membenarkannya, karena pembenaran hanya muncul setelah pemahaman, dan model yang dimaksudkan di sini terdapat di awal tarekat tasawuf…Adapun rasa (dzawq) maka ia seperti ‘menyaksikan’ dan ‘mengambil dengan tangan’dan hal itu tidak ada kecuali dalam tarekat para sufi.
Ibn Taimiyah bahkan tidak mengingkari konsep “mabuk” yang kadang-kadang melahirkan berbagai ungkapan yang sepintas terkesan berbau syirik tetapi sebenarnya tidak dimaksudkan demikian, ungkapan-ungkapan yang dikenal dengan syathahat.
Ungkapan-ungkapan pada dasarnya muncul secara otomatis dari kondisi fana (ekstase) yang sama sekali tidak dipengaruhi oleh pertimbangan atau kesadaran apa pun kecuali semata-mata karena terbuai oleh keagungan dan keindahan Tuhan. Dalam kaitan ini ia mengatakan:

“Sebagian tokoh sufi yang mengalami kondisi spiritual tertentu (dzawi al-ahwal) kadang-kadang mengalami ‘mabuk dan lenyap dari selain Allah’ dalam keadaaan fana’yang singkat. Keadaan mabuk seperti itu terjadi tanpa disengaja, tanpa pertimbangan. Kadang-kadang dalam keadaan itu ia berkata subhani (maha suci aku), atau ungkapan-ungkapan lain seperti yang mempengaruhi Abu Yazid al-Busthami dan orang-orang berjiwa sehat (al-ashihha) lainnya."

Hal itu menurut Ibn Taimiyah sejalan dengan makna-makna hadis qudsi yang diriwayatkan oleh al-Bukhari. Dalam hadis itu disebutkan bahwa apabila seorang hamba selalu berupaya menempuh jalan pendekatan diri kepada Allah dengan melaksanakan secara intensif al-faraidh (perkara-perkara yang diwajibkan) dan al-nawafil (perkara-perkara yang disunnahkan), sebuah upaya yang bermuara pada suatu keadaan (hal) yang dalam hadis itu diungkapkan dengan “sampai Aku mencintainya” (hatta uhibahu),“maka Akulah yang menjadi telinga, mata, tangan dan kakinya.” Semua ini dikemukakan Ibn Taimiyah ketika ia membela ahli tarekat yang sejalan dengan sunnah.
Di sela-sela pembelaan ini ia menegaskan: Polok-pokok madzab ahli tarekat yang Islami adalah mengikuti para nabi dan para rasul.
»»  Selengkapnya...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tarekat dalam Al-Quran dan al-Hadis

Thariqah (Ind. Tarekat) adalah jalan yang dilalui oleh orang sufi dalam perjalanannya menuju Tuhan, dan digambarkan sebagai jalan yang berpangkal pada syari’ah, sebab jalan utama disebut syar’ sedangkan anak jalan disebut thariq. Kata ini terambil dari kata tharq yang di antara maknanya adalah “mengetuk” seperti dalam ungkapan tharq al-bab yang berarti “mengetuk pintu”; karena itu, cara beribadah seorang sufi disebut thriqah karena ia dalam ibadahnya selalu mengetuk pintu hatinya dengan dzikrullah. Cara beribadah semacam ini oleh Nabi disebut dengan thariqah hasanah ‘cara yang baik’. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Musnadnya dengan perawi-perawi tsiqat ‘dipercaya’ Nabi saw bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba jika berpijak pada thariqah yang baik dalam beribadah, kemudian ia sakit, maka dikatakan (oleh Allah) kepada malaikat yang mengurusnya, ‘Tulislah untuk orang itu pahala yang sepadan dengan amalnya apabila ia sembuh sampai Aku menyembuhkannya atau mengembalikannya kepada-Ku.’(Musnad Ahmad, 11: 203.)

Ungkapan thariqah hasanah dalam hadis tersebut menunjukan kepada perlaku hati yang diliputi kondisi ihsan’beribadah seolah –olah melihat Tuhan atau kondisi khusyu’ yakin berjumpa dengan Tuhan dan kembali kepada-Nya,’ (Al-Baqarah, 2: 46) sebab ibadah (misalnya salat) yang dilakukan dengan hati yang lalai oleh Nabi disebut sebagai shalat al-munafiq ‘salatnya orang munafik’, yaitu yang didalamnya ia tidak berdzikir kepada Allah kecuali sedikit (la yadzkurullaha fiha illa qalilan) Shahih Muslim, 1: 434, dan pelakunya oleh Tuhan diancam dengan al-wayl. (Al-Maun, 107: 4-5).
Didalam al-Quran pun kata thariqah muncul dalam konteks dzikrullah sebagai aktualisasi tauhid yang sempurna.
Setelah Allah menjanjikan karunia yang banyak kepada orang-orang yang istiqamah di atas thariqah, Dia langsung memberikan ancaman siksa yang sangat pedih kepada orang yang tidak mau berdzikir kepada-Nya:

“Seandainya mereka istiqamah di atas thariqah niscaya Kami beri minum mereka dengan air yng melimpah (karunia yang banyak): untuk Kami uji mereka di dalamnya, dan barang siapa tidak mau berdzikir kepada Tuhannya, niscaya Dia menimpakan azab yang sangat pedih.” (Al-Jinn, 72: 16-17)

Ibn al-Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Madarij al-Salikin mengutip perkataan Abu Bakar al-Shiddiq r.a. ketika menyingung ayat tersebut. Sahabat agung ini pernah ditanya mengenai maksud al-istiqamah ala al-thariqah dan ia menjawab, “hendaknya engkau tidak menyekutukan Allah dengan sesuat (an la tusyrika billahi syay-an).” Jadi, kata Ibn al-Qayyim, yang dimaksud (al-istiqamah ‘ala al-thariqah) oleh Abu Bakar al-Shiddiq r.a. adalah al-istiqamah ala mahdhi al-tauhid konsisten di atas tauhid yang murni artinya, thariqah dalam ayat tersebut adalah”jalan menuju tauhid yang murni”.
Tauhid yang murni ini pulalah yang menjadi tujuan syekh-syekh tarekat sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibn Taimiyah:

“Tauhid inilah yang dibawa oleh para rasul dan kitab-kitab Allah dan yang diisyaratkan oleh syeikh-syeikh tarekat dan pakar-pakar agama."

Dalam ayat yang lain thariqah disandingkan dengan syari’ah yaitu ketika Allah berfirman:

“Bagi tiap-tiap umat di antara kamu Kami berikan syir’ah (peraturan) dan minhaj (metode).” (Al-Maidah, 5:48)

Ibn Taimiyah menjelaskan bahwa syir’ah dalam ayat tersebut adalah syari’ah (peraturan) sedangkan minhaj adalah thariqah (metode pelaksanaan syari’ah), dan kedua-dua (syari’ah dan thariqah) secara simultan bermuara pada tujuan pokok yang merupakan haqiqat al-din (hakikat agama), yaitu tauhid yang murni, atau hanya menyembah Allah semata (ibadat Allah wahdah).
»»  Selengkapnya...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS